Pages

Kamis, 16 Juni 2011

Mengatasi demam anak

Written by Dr. Hardiono Pusponegoro, SpA(K)

Demam merupakan salah satu alasan orangtua membawa anaknya ke dokter. Beberapa orangtua berpikir bahwa demam merupakan sesuatu yang buruk dan dapat menyebabkan kerusakan otak. Pandangan seperti itu tidak tepat
karena demam sebenarnya merupakan salah satu usaha tubuh kita untuk melindungi tubuh dari infeksi. Pada saat terjadi infeksi maka tubuh akan memproduksi panas lebih banyak. Dengan panas maka usaha untuk membunuh mikroorganisme penyebab infeksi menjadi lebih optimal.

Demam adalah kenaikan suhu tubuh lebih dari 38oC (diukur di ketiak). Seringkali tidak serius, tetapi kadang serius juga. Maka kita perlu bertanya apa kemungkinan penyebab demam pada anak saya? Apakah demam tersebut serius atau tidak?

Penyebab demam yang serius misalnya pneumonia atau radang paru. Terdapat tiga gejala utama pneumonia yaitu demam yang tinggi dan paling penting adalah adanya sesak nafas.

Contoh infeksi lain yang serius adalah meningitis, suatu infeksi selaput otak. Penyakit ini sangat jarang. Tanda-tanda yang perlu kita waspadai adanya kemungkinan ke arah meningitis :
1. Kontak matanya tidak baik? Anak seperti tidak memandang kepada kita.
2. Ia kelihatan kesakitan ketika menggerakan kepala dan tidak ingin menggerakkannya.
3. Anak mengalami kejang.
4. Pada bayi, ubun-ubun besarnya membonjol.
5. Saat demam turun anak tetap lesu.

Pada sebanyak 5% anak, dapat terjadi kejang demam. Sebenarnya kejang demam tidak berbahaya, tetapi sangat menakutkan bagi orang tua. Kejang demam baru menjadi masalah dan disebut sebagai kejang demam kompleks
bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit, kejangnya satu sisi anggota tubuh saja, kejang berulang lebih dari 2 kali per hari, terjadi pada bayi kurang dari satu tahun, atau setahun lebih dari 4 kali kejang. Kejang demam yang terjadi pada anak yang sudah mempunyai gangguan saraf sebelumnya juga memerlukan terapi terus menerus.

Anak yang seperti apa yang mengalami kejang demam sederhana dan orang tua tidak perlu khawatir? Apabila kejang demam yang dialami bersifat kelojotan atau kaku diseluruh tubuh, berlangsung kurang dari 15 menit dan setelah kejang anak sadar. Bagaimana saya tahu kalau anak saya sadar? Biasanya anak bayi akan menangis sedangkan pada anak yang lebih besar bila dipanggil namanya akan menengok.

Walaupun seringkali tidak berbahaya, orang tua selalu kuatir terhadap demam. Anak yang demam cenderung menjadi lebih rewel atau malas bermain dan malas makan. Kadang dapat terjadi kurang cairan atau dehidrasi. Obat penurun demam membantu menurunkan demam sehingga anak menjadi lebih nyaman.

Obat yang dapat digunakan untuk menurunkan demam

  • Parasetamol atau asetaminofen
    Merupakan obat penurun panas yang paling banyak tersedia di pasar dengan berbagai macam merek. Parasetamol merupakan obat yang paling aman untuk anak dengan efek samping yang minimal. Parasetamol memiliki dua efek yaitu menurunkan demam dan mengurangi rasa sakit sehingga anak menjadi lebih nyaman. Parasetamol aman bila digunakan dalam kisaran dosis 10-15 mg/kgBB/per kali pemberian, boleh 4 kali sehari. Parasetamol baru berbahaya apabila digunakan dalam dosis yang berlebihan, yaitu pada dosis 200 mg/kgBB/kali. Pada dosis tersebut parasetamol dapat menyebabkan kerusakan hati.

    Sayangnya, parasetamol juga sering dicampur dalam obat flu. Jika anak anda sudah mengkonsumsi obat flu yang mengandung parasetamol, jangan berikan parasetamol lagi nanti dosisnya menjadi terlau besar.

  • Ibuprofen
    Dapat digunakan pada anak usia lebih dari 6 bulan, efek sampingnya adalah mual, muntah, nyeri lambung dan kadang sampai perdarahan lambung. Dosis yang digunakan adalah 10 mg/kgBB/kali, diberikan 3x/hari. Efek menurunkan demam lebih kuat dari parasetamol, tetapi efek sampingnya juga lebih besar. Meperbesar resiko pendarahan.
  • Aspirin
    Sudah jarang digunakan sebagai obat penurun panas karena dapat menimbulkan efek samping nyeri lambung, perdarahan lambung serta efek samping yang serius yaitu sindrom Reye

    Lewat mulut atau lewat anus?
    Parasetamol dapat diberikan lewat mulut atau anus. Bila anak mengalami demam tinggi, muntah dan sulit minum obat, lebih baik diberikan lewat anus. Obat yang diberikan lewat anus biasanya bekerja lebih cepat karena langsung diserap ke pembuluh darah. Penggunaan supositoria sangat mudah, bisa dilakukan sendiri di rumah.

    Tips mengatasi demam pada anak
    1. Berikan parasetamol untuk membantu menurunkan demam. Dosisnya adalah 10-15 mg untuk setiap kilogram berat badan anak, misalnya anak dengan berat 15 kg perlu parasetamol 150-225 mg. Tidak perlu tepat betul. Periksa di kemasan, berapa mg yang terdapat dalam setiap sendok obat atau setiap tablet. Masa kerja parasetamol lebih pendek dari ibuprofen. Boleh diberikan 6 kali sehari.
    2. Beberapa orang tua lebih menyukai ibuprofen. Ibuprofen diberikan dengan dosis 10 mg/kBB/kali. Sebagai contoh anak dengan berat badan 10 kg memerkukan ibuprofen 100 mg sekali pemberian. Boleh diulang 3 kali per hari.
    3. Berikan obat lewat anus bila demam tinggi, muntah, sulit minum obat.
    4. Jangan kompres anak dengan air dingin atau alkohol karena anak akan menggigil. Kulit memang te-rasa dingin bila dikompres es, tetapi menggigil akan menaikkan suhu di dalam tubuh dan anak merasa sangat tidak enak. Cara terbaik adalah mengisi bak mandi dengan air setinggi 5 cm, de-ngan suhu 29-33oC. Air tersebut harus terasa sedikit hangat bila diteteskan di punggung tangan anda. Biarkan anak duduk di bak mandi, kemudian seka badan, tangan dan kaki dengan air hangat tersebut. Air akan menguap dan suhu tubuh akan turun. Pertahankan suhu ruangan 24oC. Kompres hangat akan menurunkan demam dalam 30-45 menit.
    5. Jangan gunakan pakaian yang tebal atau berlapis. Gunakan pakaian yang tipis sehingga membantu meredakan demam melalui proses penguapan.
    6. Dapat menggunakan kipas angin, tetapi angin jang-an diarahkan langsung ke tubuh anak.
    7. Minum air yang cukup banyak merupakan hal paling penting, karena anak yang demam dapat mengalami dehidrasi.
    8. Makan harus tetap diteruskan.

    Referensi
    1. Luszczak M., Evaluation and management of infants and young children with fever. Am Fam Phys 2001;64:1219-16.
    2. Parent information handout: Fever. Pediatric in review 1997;18:445-6.
    3. Crocetti M, Mogheli N, Serwint J. Fever phobia revisited: have parental misconceptions about fever changed in 20 years? Pediatrics 2001;8:1241-6.

  • 0 komentar:

     
    Copyright © WURI HARDINI VERONICA. Design By New Blogger Templates
    Support IE 7, On Sales, Best Design